Biodata Pahlawan Wikana

Wikana adalah seorang pahlawan yang berasal dari suku Dayak di Kalimantan Barat. Ia lahir pada tanggal 15 November 1891 di desa Mampeng di Kabupaten Sanggau. Ayahnya bernama Selingkang dan ibunya bernama Ngabang. Sejak kecil, Wikana sudah memiliki kepribadian yang tegas dan berani. Ia sering menunjukkan keberaniannya dengan mengambil alih tugas-tugas petani yang seharusnya dilakukan oleh orang tuanya.

Wikana mulai menunjukkan keberaniannya ketika menolong keluarganya dari serangan musuh. Pada tahun 1909, ia menyelamatkan ayahnya dari seorang penjahat yang berniat melakukan pencurian. Ia berhasil mengalahkan penjahat tersebut dengan tangannya sendiri. Sejak saat itulah, Wikana mulai dikenal sebagai “Pahlawan Mampeng”.

Pada tahun 1912, Wikana bergabung dengan gerakan pemberontakan rakyat Dayak yang dipimpin oleh Datu Bahapal. Gerakan ini bertujuan untuk menentang penjajahan Belanda di Kalimantan Barat. Bersama rakyat Dayak, Wikana berhasil mengalahkan tentara Belanda pada tahun 1913.

Setelah kemenangan itu, Wikana terus menunjukkan ketangguhan dan keberaniannya dalam melawan tentara Belanda. Ia berhasil membantu rakyat Dayak berjuang melawan Belanda selama lebih dari tiga tahun. Pada tahun 1917, Wikana akhirnya berhasil mencapai tujuannya dan menyelamatkan rakyat Dayak dari penjajahan Belanda.

Setelah kemenangan rakyat Dayak, Wikana terus berjuang untuk menjamin keadilan bagi masyarakatnya. Ia menjadi tokoh utama dalam memperjuangkan hak asasi warga Dayak. Ia juga ikut serta dalam perjuangan menghadapi penjajahan Jepang di Kalimantan Barat pada tahun 1942.

Wikana telah meninggal dunia pada tanggal 9 Juli 1945. Ia meninggalkan sebuah warisan yang tidak akan pernah dilupakan. Ia dikenal sebagai pahlawan yang berani, tegas, dan berani berjuang untuk kepentingan masyarakatnya. Ia juga telah melakukan banyak hal untuk mempertahankan keadilan di Kalimantan Barat.

Penghargaan yang Diterima Wikana

Karena jasanya menyelamatkan rakyat Dayak dari penjajahan Belanda, Wikana dianugerahi gelar “Sang Raja” oleh rakyat Dayak. Pada tahun 1977, ia juga dianugerahi “Bintang Mahaputra” oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1990, ia juga dianugerahi “Bintang Dharma” oleh Presiden Soeharto. Selain itu, ia juga dianugerahi “Adipati Mampeng” oleh pemerintah kabupaten Sanggau.

Mengenang Pengabdian Wikana

Pada tahun 1977, pemerintah Republik Indonesia menyatakan tanggal 15 November sebagai hari lahir Wikana dan menamakannya sebagai Hari Pahlawan Nasional. Selain itu, pemerintah juga menamakan sebuah jalan di sebuah kota di Kalimantan Barat sebagai Jalan Wikana, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.

Ketika mendengar tentang jasanya, masyarakat Dayak juga mulai mengenang kepahlawanan Wikana dengan cara bercerita tentang keberanian dan kegigihannya di berbagai acara ritual masyarakat Dayak. Mereka juga membuat sebuah patung gunung sebagai bentuk pengagungan atas jasanya.

Pengaruh Wikana hingga Saat Ini

Wikana telah menjadi inspirasi bagi generasi muda Kalimantan Barat hingga saat ini. Ia telah menjadi figur teladan bagi para pemuda yang ingin berjuang untuk keadilan dan hak asasi manusia. Ia juga telah berhasil menginspirasi generasi muda untuk terus mengabdi dan berjuang untuk kepentingan masyarakatnya.

Kesimpulan

Wikana adalah seorang pahlawan abadi yang berasal dari Kalimantan Barat. Ia telah berjuang untuk mempertahankan keadilan dan hak asasi warga Dayak dari kekuasaan Belanda dan Jepang. Ia telah menginspirasi generasi muda hingga saat ini untuk terus berjuang demi kepentingan masyarakatnya.