Satu Pahlawan dalam Bidang Pendidikan adalah Dr. Mohammad Natsir

Dr. Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh pahlawan dalam bidang pendidikan Indonesia. Ia lahir dari pasangan Nur Muhammad dan Rahmah pada tanggal 8 Maret 1908 di kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Beliau dikenal sebagai tokoh pendidikan yang disegani karena ia memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.

Kontribusi Dr. Mohammad Natsir dalam Bidang Pendidikan

Dr. Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang dan pendidik yang berjuang untuk membangun dan mengembangkan pendidikan di Indonesia. Ia memulai kiprahnya dalam bidang pendidikan pada tahun 1928 saat menjadi guru di Sekolah Menengah Negeri I Padang Panjang. Pada tahun 1932 ia lulus dari Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir dengan gelar ahli theologi. Dan pada tahun 1938 ia menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Columbia, Amerika Serikat.

Setelah itu, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Partai Politik yang kemudian menjadi Partai Masyumi. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi keilmuan, seperti Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Ikatan Pendidikan Islam Indonesia (IPII). Di tahun 1942, ia menjadi Ketua Umum Partai Masyumi dan menjadi salah satu tokoh yang terlibat dalam Penyerahan Jepang kepada pasukan Sekutu pada 17 Agustus 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ia terpilih menjadi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia memiliki peran penting dalam pembuatan UU Pendidikan Nasional No. 2/1953 yang menyebutkan bahwa semua warga Indonesia diwajibkan untuk mengikuti pendidikan dasar. Pada tahun 1955 ia terpilih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian berkembang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selama menjabat, ia banyak melakukan pengembangan yang berfokus pada pendidikan formal, meliputi peningkatan kualitas guru, peningkatan jumlah siswa, dan peningkatan jumlah sekolah. Ia juga banyak bergerak untuk meningkatkan pendidikan informal, seperti mendirikan perpustakaan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan lain-lain.

Rekam Jejak Dr. Mohammad Natsir

Selain sebagai tokoh pendidikan, Dr. Mohammad Natsir juga dikenal sebagai tokoh politik. Ia merupakan salah satu penggagas Partai Masyumi dan terlibat dalam berbagai gerakan politik di Indonesia, seperti Gerakan Pengkajian (1947) dan Gerakan Pembaruan (1951). Ia juga aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1945, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI) pada tahun 1955, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada tahun 1959.

Dr. Mohammad Natsir juga dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Ia menulis berbagai buku yang banyak memiliki tema pendidikan dan politik, seperti “Pendidikan di Indonesia” (1946), “Pemikiran Politikku” (1948), “Kebudayaan Islam di Indonesia” (1951), dan “Budaya Politik Indonesia” (1956).

Penghargaan Dr. Mohammad Natsir

Dr. Mohammad Natsir telah menerima berbagai macam penghargaan dari berbagai lembaga di Jakarta. Ia menerima penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden Soekarno pada tahun 1963, penghargaan Bintang Jasa Pratama dari Presiden Soeharto pada tahun 1978, dan penghargaan Bintang Budaya Parama dari Presiden Habibie pada tahun 1999.

Kematian dan Warisan Dr. Mohammad Natsir

Dr. Mohammad Natsir meninggal dunia pada tanggal 3 Agustus 1993 di Jakarta. Ia dikenal sebagai seorang pejuang dan pendidik yang berjuang untuk membangun dan mengembangkan pendidikan di Indonesia. Warisan yang ia tinggalkan berupa berbagai buku tentang pendidikan dan politik, seperti “Pendidikan di Indonesia” (1946), “Pemikiran Politikku” (1948), “Kebudayaan Islam di Indonesia” (1951), dan “Budaya Politik Indonesia” (1956). Ia juga meninggalkan berbagai macam pencapaian di bidang pendidikan, seperti UU Pendidikan Nasional No. 2/1953 yang menyebutkan bahwa semua warga Indonesia diwajibkan untuk mengikuti pendidikan dasar.

Kesimpulan

Dr. Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang dan pendidik yang berjuang untuk membangun dan mengembangkan pendidikan di Indonesia. Ia telah banyak melakukan berbagai macam kontribusi dalam bidang pendidikan, seperti pembuatan UU Pendidikan Nasional No. 2/1953 yang menyebutkan bahwa semua warga Indonesia diwajibkan untuk mengikuti pendidikan dasar. Ia juga meninggalkan berbagai buku tentang pendidikan dan politik, serta berbagai macam penghargaan yang diterimanya dari berbagai lembaga di Jakarta.